- foundation/: MASTER-ANCHOR, BOOK-SPEC, BLUEPRINT, WRITING-TEMPLATE, REFERENCE-BANK - chapters/: 18 bab (bab-01 s.d. bab-18) + 18 outlines - worksheets/: 18 worksheet pendamping (A01-A18) - backmatter/: references, glosarium, indeks, kata-pengantar, tentang-penulis - scripts/: build-book.ps1, build-worksheets.ps1 (Pandoc + XeLaTeX) - templates/: book-template.tex (B5, Times New Roman, margin sesuai BOOK-SPEC) - AUDIT-REPORT.md: Phase 6 consistency audit — all gates passed - PRINT-GUIDE.md: instruksi lengkap cetak PDF RTI-20252 methodology Phase 1-6 complete. Publication-ready.
24 KiB
OUTLINE DETAIL — BAB 9
Siklus Hidup Pengembangan Sistem dan Manajemen Proyek SI
Bagian: III — Analisis dan Perancangan SI
Level: Menengah
Estimasi Halaman: 18–22
Target Kata: 4.500–5.500
SEK 9.1 — PEMBUKA
Opening Bridge dari Bab 8: Analisis proses bisnis (Bab 8) menghasilkan dua output utama: dokumentasi "as-is" dan rancangan "to-be." Rancangan "to-be" seringkali melibatkan pembangunan atau kustomisasi sistem informasi baru. Saat itulah manajer bisnis harus dapat berpartisipasi aktif — bukan hanya sebagai "end user" yang menunggu, tapi sebagai co-creator yang mendefinisikan kebutuhan dan mengevaluasi hasilnya.
Hook: Sebuah perusahaan logistik menginvestasikan Rp 15 miliar untuk sistem tracking baru. Satu tahun kemudian, sistem sudah berjalan — tapi 60% driver tidak menggunakannya karena antarmuka yang tidak intuitif untuk penggunaan di lapangan. Investigasi menemukan: tidak ada satupun driver yang pernah dilibatkan dalam proses requirements gathering. Manajer operasional tidak pernah ikut dalam satu pun demo prototype sebelum go-live. Rp 8 miliar dibutuhkan untuk redesign.
Pertanyaan sentral: "Bagaimana seorang manajer bisnis dapat berpartisipasi secara efektif dalam siklus hidup pengembangan sistem — dari perencanaan hingga evaluasi — untuk memastikan SI yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan bisnis?"
SEK 9.2 — MODEL UTAMA (Gambar 9.1)
Nama Model: Kerangka Manajemen Pengembangan SI Berbasis Nilai (MPSI-BN)
Mermaid diagram: graph TD, 2 jalur paralel (teknis dan manajerial) yang berinteraksi
Jalur Teknis (IT):
Requirements Engineering → System Design → Development → Testing → Deployment → Maintenance
Jalur Manajerial (Business):
Business Case → Stakeholder Alignment → UAT Participation → Change Management → Benefits Realization → Continuous Review
Titik interaksi (bisnis-IT):
- Requirements Validation
- Design Review
- User Acceptance Testing
- Go-live Decision
- Post-implementation Review
SEK 9.3 — DEFINISI KUNCI
-
📌 Siklus Hidup Pengembangan Sistem / SDLC (System Development Life Cycle) — Pendekatan terstruktur untuk merencanakan, menciptakan, menguji, dan menerapkan sistem informasi, yang mendefinisikan fase-fase, aktivitas, dan deliverable yang diharapkan di setiap tahap (Laudon & Laudon, 2022). Relevansi: manajer yang memahami SDLC dapat berpartisipasi dengan efektif di titik-titik keputusan yang kritis.
-
📌 Metodologi Agile (Agile Development) — Pendekatan pengembangan software yang menekankan iterasi cepat, kolaborasi lintas fungsi, respons terhadap perubahan, dan delivery value secara inkremental — berlawanan dengan pendekatan waterfall yang berurutan dan kaku (Beck et al., 2021). Relevansi: Agile meningkatkan keterlibatan manajer bisnis dalam pengembangan SI — sprint review adalah mekanisme umpan balik yang efektif.
-
📌 Business Case (Business Case Proyek SI) — Dokumen yang mengartikulasikan justifikasi untuk investasi proyek SI, mencakup problem statement, opsi solusi, analisis biaya-manfaat, risiko, dan rekomendasi; digunakan untuk mendapatkan persetujuan dan alokasi sumber daya (PMI, 2021). Relevansi: manajer bisnis — bukan IT — bertanggung jawab atas business case karena mereka yang memahami nilai bisnis.
-
📌 UAT (User Acceptance Testing) — Fase pengujian akhir di mana pengguna bisnis memverifikasi bahwa sistem yang dikembangkan memenuhi persyaratan bisnis yang disepakati, sebelum sistem diterima secara resmi dan go-live (Laudon & Laudon, 2022). Relevansi: UAT bukan formalitas — ini adalah hak dan tanggung jawab manajer untuk memastikan sistem benar-benar menjawab kebutuhan.
SEK 9.4 — KONSEP INTI
9.4.1 — Metodologi SDLC: Waterfall, Agile, dan Hybrid
Argumen utama: Tidak ada metodologi yang universally "terbaik" — pilihan bergantung pada karakteristik proyek. Waterfall (Sequential):
- Fase berurutan: Requirements → Design → Development → Testing → Deployment
- Cocok untuk: requirements yang stabil dan well-defined, sistem kritikal dengan zero-defect requirement
- Kelemahan: terlambat mendeteksi masalah, perubahan mahal
Agile (Iterative/Incremental):
- Sprint 2–4 minggu, deliver working software setiap sprint
- Cocok untuk: requirements yang evolving, time-to-market penting, user involvement tinggi
- Kelemahan: sulit untuk fixed-price contracts, butuh komitmen user yang konsisten
Hybrid:
- Waterfall untuk arsitektur dan infrastruktur; Agile untuk aplikasi dan UI
- Semakin umum di enterprise
Panduan praktis: Tabel pertanyaan → rekomendasi metodologi
9.4.2 — Business Case dan Analisis Biaya-Manfaat
Argumen utama: Business case yang kuat adalah tanggung jawab manajer bisnis — IT tidak bisa membuatnya karena mereka tidak tahu nilai bisnisnya. Komponen business case proyek SI:
- Executive summary — 1 halaman, mengapa proyek ini penting sekarang
- Problem statement — masalah bisnis yang akan diselesaikan (terukur)
- Solution options — minimal 3 opsi termasuk "do nothing"
- Cost-benefit analysis — ROI, payback period, NPV
- Risk assessment — top 5 risiko + mitigasi
- Recommendation — opsi yang direkomendasikan + justifikasi
Biaya yang sering dilupakan:
- Lisensi ongoing (bukan hanya upfront)
- Integration costs
- Training dan change management
- Downtime selama cutover
- Technical debt jika tidak dikelola
Manfaat yang sering tidak diukur:
- Waktu manajer yang dikembalikan dari manual work
- Kualitas keputusan yang meningkat (revenue opportunity)
- Risk reduction (sulit dimonetisasi tapi nyata)
9.4.3 — Agile dan Scrum dari Sudut Pandang Manajer
Argumen utama: Agile mengubah peran manajer bisnis dalam pengembangan SI — dari definisi requirements sekali di awal ke keterlibatan berkelanjutan. Role dalam Scrum yang relevan untuk manajer bisnis:
- Product Owner — idealnya dari sisi bisnis: mendefinisikan backlog, memrioritaskan fitur, menerima sprint result
- Stakeholder — berpartisipasi dalam Sprint Review setiap 2–4 minggu
- SME (Subject Matter Expert) — subject matter expert dari departemen yang menjawab pertanyaan tim developer
Artifacts Scrum yang harus dipahami manajer:
- Product Backlog: daftar semua kebutuhan yang diprioritaskan
- Sprint Backlog: yang dikerjakan sprint ini
- Increment: software yang bisa diperagakan setiap sprint
- Definition of Done: kriteria penerimaan yang disepakati
9.4.4 — Requirements Engineering dari Perspektif Bisnis
Argumen utama: Requirements yang buruk adalah penyebab kegagalan proyek #1 — dan akarnya hampir selalu di sisi bisnis, bukan IT. Tipe requirements:
- Business requirements — apa yang bisnis butuhkan untuk dicapai (outcome level)
- Functional requirements — fungsi apa yang sistem harus lakukan
- Non-functional requirements — bagaimana sistem harus berperilaku (performance, security, usability)
- Constraints — batasan teknis/bisnis/regulasi yang tidak dapat diubah
User stories (Agile format): "As a [role], I want to [action] so that [benefit]" Contoh: "As a store manager, I want to receive alert when inventory level falls below minimum threshold, so that I can reorder before stockout occurs."
Acceptance criteria: Konkret, testable conditions untuk setiap user story
9.4.5 — Manajemen Proyek SI: Scope, Time, Cost, Quality
Argumen utama: Project management triple constraint masih valid, tapi scope management adalah yang paling kritis untuk proyek SI. Scope creep: Penyebab terbesar cost overrun dalam proyek SI.
- Tanda-tanda awal: "itu mudah, tambahkan saja", "sekalian juga ini", client requests tanpa formal change control
- Dampak: timeline molor, budget membengkak, kualitas menurun
Change control process: Setiap perubahan dari baseline requirements harus melalui proses: identifikasi impact → estimasi effort → approval → update schedule/budget → dokumentasi.
PMBOK untuk SI (PMI, 2021):
- Initiating: Charter, stakeholder identification
- Planning: Scope, WBS, schedule, cost, risk
- Executing: Team management, procurement, quality assurance
- Monitoring & Controlling: Progress, change control, risk monitoring
- Closing: Lessons learned, benefit realization handoff
9.4.6 — User Acceptance Testing dan Go-Live Decision
Argumen utama: UAT adalah gate terakhir sebelum go-live — dan ini adalah domain manajer bisnis, bukan IT. UAT yang efektif:
- Test cases berbasis business scenarios, bukan technical scenarios
- Partisipasi actual end users, bukan hanya IT champion
- Dokumentasi defect dengan prioritas bisnis (P1: critical, P2: major, P3: minor)
- Go/No-Go criteria yang disepakati sebelum UAT dimulai
Go-live decision matrix:
- P1 defects: 0 (hard stop)
- P2 defects: ≤ X dengan workaround documented
- P3 defects: acceptable, scheduled in next release
Cutover strategy:
- Big bang vs phased rollout vs parallel run
- Rollback plan jika terjadi critical issue
9.4.7 — Post-Implementation Review dan Benefits Realization
Argumen utama: Proyek SI tidak selesai saat go-live — selesai saat nilai bisnis yang dijanjikan dalam business case terwujud. Benefits realization framework:
- Tetapkan baseline sebelum implementasi (metrik bisnis saat ini)
- Define target benefit dengan timeline (3 bulan, 6 bulan, 1 tahun)
- Review berkala: apakah manfaat sedang terwujud?
- Jika tidak: investigasi hambatan — teknis, proses, atau adoption?
- Lessons learned: apa yang bisa dilakukan lebih baik di proyek berikutnya?
Paradox post-implementation: Banyak organisasi merangkul implementasi baru tapi mengabaikan optimization setelah go-live — padahal 40–60% value biasanya datang dari 6–12 bulan pertama pasca go-live jika dikelola dengan benar.
SEK 9.5 — KOMPARASI (Tabel 9.1)
Judul Tabel: "Manajer Bisnis Pasif vs Manajer Bisnis Aktif dalam Proyek SI: 8 Dimensi"
| Dimensi | Manajer Bisnis Pasif | Manajer Bisnis Aktif |
|---|---|---|
| Peran dalam requirements | Menunggu IT menganalisis | Memimpin business requirements, validasi user stories |
| Business case | Dibuat IT/konsultan | Dipimpin manajer bisnis, IT sebagai input |
| Keterlibatan pengembangan | Hadir di demo akhir | Hadir di sprint review setiap 2–4 minggu |
| UAT | Delegasikan ke staf junior | Partisipasi langsung pada business-critical scenarios |
| Change management | IT mengumumkan go-live | Manajer memimpin adoption program |
| Post-implementation | "Sistem sudah jalan, selesai" | Review manfaat 3, 6, 12 bulan |
| Kualitas sistem akhir | Baik secara teknis, tidak fit bisnis | Fit bisnis karena kontinuitas feedback |
| ROI proyek | Sering tidak terukur | Terukur karena baseline dan target terdefinisi |
💡 Insight: Proyek SI gagal lebih sering karena manajer bisnis yang tidak terlibat daripada karena tim IT yang tidak kompeten. Keterlibatan aktif manajer bisnis adalah investasi waktu yang paling tinggi ROI-nya dalam sebuah proyek SI.
SEK 9.6 — REALITAS LAPANGAN
Fenomena 1: CHAOS Report — Why IT Projects Fail
Konten: Standish Group CHAOS Report (2023) menunjukkan hanya 31% proyek IT delivered on-time, on-budget, dan with full scope. 52% challenged (terlambat, over budget, atau scope dikurangi), 17% cancelled. Top 3 penyebab kegagalan: (1) poor requirements, (2) lack of stakeholder engagement, (3) poor planning. Ketiganya adalah masalah yang bisa diatasi oleh manajer bisnis yang aktif dan kompeten.
💡 Insight: Statistik kegagalan proyek IT yang telah bertahan selama 30 tahun lebih bukan karena developer tidak kompeten — tapi karena requirements dan keterlibatan stakeholder bisnis yang konsisten buruk.
Fenomena 2: Proyek SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) — Indonesia
Konten: Kemendagri mengimplementasikan SIAK generasi berikutnya di 500+ kantor Disdukcapil Indonesia. Tantangan: setiap daerah memiliki variasi proses yang berbeda. Solusi yang berhasil: melibatkan "super user" dari Disdukcapil daerah dalam UAT, bukan hanya tim pusat. Requirements juga dikumpulkan dengan participatory approach — manajer layanan kelurahan dilibatkan. Daerah yang prosesnya dilibatkan di awal: adoption rate 94%. Yang tidak: 61%.
💡 Insight: Keterlibatan end user dalam requirements dan UAT — meskipun memakan waktu lebih lama di awal — menghasilkan adoption yang jauh lebih tinggi.
Fenomena 3: Tokopedia — Agile at Enterprise Scale
Konten: Tokopedia mengoperasikan ratusan tim Agile yang bekerja secara parallel pada ribuan fitur produk. Product Owners di Tokopedia adalah manajer bisnis dari divisi masing-masing (Merchant Solutions, Payments, Logistics) — bukan IT. Setiap sprint review melibatkan representasi dari operations, marketing, dan customer experience. GoTo Group menyebut ini "Product-led organization" — produk digital adalah bisnis, bukan alat bisnis. (GoTo Annual Report 2024)
💡 Insight: Ketika perusahaan digital paling maju menempatkan manajer bisnis sebagai Product Owner, ini menegaskan bahwa ownership sistem informasi adalah tanggung jawab bisnis yang fundamental.
SEK 9.7 — JEBAKAN KOGNITIF
-
⚠️ "IT yang tahu paling baik tentang sistemnya — biarkan mereka yang define requirements"
- Mengapa salah: IT tahu paling baik tentang teknologi. Manajer bisnis tahu paling baik tentang kebutuhan bisnis. Konfusikan keduanya dan Anda akan mendapat sistem yang technically perfect tapi business-irrelevant.
- Koreksi: Split tanggung jawab dengan jelas: business requirements adalah domain bisnis; technical design adalah domain IT.
-
⚠️ "Agile berarti tidak ada planning — kita improvise seiring berjalan"
- Mengapa salah: Agile membutuhkan lebih banyak planning, bukan lebih sedikit — hanya planning-nya bergeser dari "big upfront" ke "continuous lightweight."
- Koreksi: Agile menekankan respondiveness terhadap perubahan — bukan ketidakdisiplinan. Product backlog yang well-prioritized adalah artefak planning yang paling penting.
-
⚠️ "Proyek selesai saat sistem go-live"
- Mengapa salah: Go-live adalah awal dari value realization, bukan akhir proyek. 40% dari manfaat yang direncanakan biasanya hanya terwujud dalam 12 bulan pertama pasca go-live jika dikelola secara aktif.
- Koreksi: Tetapkan "benefits realization owner" yang bertanggung jawab memastikan manfaat bisnis yang dijanjikan dalam business case benar-benar terwujud.
-
⚠️ "UAT adalah tanggung jawab IT untuk membuktikan sistemnya bekerja"
- Mengapa salah: UAT adalah verifikasi bahwa sistem menjawab kebutuhan bisnis — ini bisa divalidasi hanya oleh pengguna bisnis yang memahami konteks pekerjaan sehari-hari mereka.
- Koreksi: Pastikan UAT melibatkan actual end users, bukan hanya IT champion atau manajer yang tidak menggunakan sistem sehari-hari.
SEK 9.8 — STUDI KASUS
Kasus A (Dasar): Implementasi ERP di PT Semen Indonesia
Sumber: Annual Report Semen Indonesia 2024, Sari (2023) Kondisi awal (❌): PT Semen Indonesia (SIG) memiliki 3 pabrik dengan sistem keuangan dan operasional yang berbeda-beda setelah beberapa akuisisi. Konsolidasi laporan keuangan membutuhkan 10 hari. tidak ada visibilitas inventory real-time lintas pabrik. Business case tidak pernah dibuat formal; proyek ERP "dipaksakan" tanpa buy-in semua divisi. Perubahan (✅): Proyek SAP ERP Phase 2 (2021–2024) menggunakan approach berbeda: business case dibuat oleh CFO group (bukan IT), setiap divisi menunjuk business owner yang aktif dalam requirements workshop, UAT dilakukan di 3 lokasi, perubahan dikelola dengan Kotter model. Konsolidasi laporan turun ke 2 hari. Inventory visibility penuh di seluruh pabrik. Tabel: Waktu konsolidasi, inventory accuracy, user adoption rate (sebelum vs sesudah) Pelajaran: Business-led ERP implementation (vs IT-led) menghasilkan adoption yang jauh lebih tinggi dan manfaat yang lebih cepat terwujud.
Kasus B (Lanjutan): Spotify — Agile Squad Model
Sumber: Kane et al. (2022), Spotify Engineering Culture (2023) Model Spotify:
- Squads: tim kecil (5–10 orang), lintas fungsi, autonomus, responsible atas area produk tertentu
- Tribes: kumpulan squads yang terkait (max ~100 orang)
- Chapters: komunitas praktik lintas tribes (engineering excellence)
- Guilds: komunitas minat lintas seluruh organisasi
Apa yang membuat model ini bekerja: Setiap squad memiliki Product Owner dari sisi bisnis, Engineer Lead dari IT, dan clear mission + metrics success. Squads fully accountable atas produk mereka dari requirements hingga deployment hingga monitoring.
Pelajaran untuk manajer Indonesia: Model squad dapat diadaptasi bahkan di perusahaan non-tech — intinya adalah cross-functional team ownership atas proyek SI, bukan silo antara "yang minta" dan "yang membangun."
SEK 9.9 — TEMPLATE PRAKTIS
Nama Template: Business Case Proyek SI (Mini Canvas)
======================================
TEMPLATE 9.1 — BUSINESS CASE PROYEK SI (MINI CANVAS)
======================================
JUDUL PROYEK: ____________________________
BUSINESS OWNER: ____________________________
TANGGAL: ____________________________
BAGIAN A: PROBLEM STATEMENT
Masalah bisnis yang akan diselesaikan (konkret, terukur):
____________________________
Dampak finansial atau risiko saat ini (estimasi):
____________________________
Bukti bahwa ini masalah yang nyata (data/observasi):
____________________________
BAGIAN B: SOLUSI YANG DIUSULKAN
Opsi 1 (Do Nothing) : Dampak: ____________________________
Opsi 2 (Quick Fix) : Biaya: ____ Manfaat: __________________
Opsi 3 (Rekomendasi) : Biaya: ____ Manfaat: __________________
Pilihan yang direkomendasikan: ________ , alasan: ______________
BAGIAN C: ANALISIS BIAYA-MANFAAT (Opsi yang Direkomendasikan)
BIAYA (3 tahun)
Investasi awal (hardware/software/impl.) : Rp ____________
Lisensi ongoing (per tahun × 3) : Rp ____________
Training & change management : Rp ____________
Biaya tak terduga (15% contingency) : Rp ____________
TOTAL BIAYA 3 TAHUN : Rp ____________
MANFAAT (3 tahun)
Penghematan operasional : Rp ____________
Revenue baru / opportunity : Rp ____________
Risk reduction value : Rp ____________
TOTAL MANFAAT 3 TAHUN : Rp ____________
ROI = (Total Manfaat - Total Biaya) / Total Biaya × 100% = _____%
Payback Period = __ bulan
BAGIAN D: RISIKO UTAMA
# | Risiko | Probabilitas | Dampak | Mitigasi
---|--------|-------------|--------|----------
1 | | [T/S/R] | [T/S/R] |
2 | | [T/S/R] | [T/S/R] |
3 | | [T/S/R] | [T/S/R] |
BAGIAN E: SUCCESS METRICS
KPI yang akan diukur untuk benefits realization:
3 bulan pasca go-live: ____________________________
6 bulan pasca go-live: ____________________________
12 bulan pasca go-live: ____________________________
Siapa yang bertanggung jawab mengukur: ____________________________
Tanggal review pertama: ____________________________
======================================
SEK 9.10 — PETA KONSEP (Gambar 9.2)
Root: SDLC dan Manajemen Proyek SI
├── Metodologi
│ ├── Waterfall (stable requirements)
│ ├── Agile/Scrum (iterative)
│ └── Hybrid (enterprise practical)
├── Peran Manajer Bisnis
│ ├── Business Case owner
│ ├── Product Owner (Agile)
│ └── UAT lead
├── Requirements Engineering
│ ├── Business → Functional → Non-functional
│ └── User stories + Acceptance criteria
├── Manajemen Proyek
│ ├── Scope creep prevention
│ └── Change control process
└── Benefits Realization
└── Baseline → Target → Review cycle
SEK 9.11 — RANGKUMAN
7 poin takeaway:
- Manajer bisnis — bukan IT — bertanggung jawab atas business case proyek SI karena hanya mereka yang memahami nilai bisnis yang dihadirkan.
- Metodologi waterfall vs Agile bukan pilihan teknis — ini adalah keputusan bisnis berdasarkan stabilitas requirements, toleransi risiko, dan urgency time-to-value.
- Requirements yang buruk adalah penyebab kegagalan proyek SI #1 selama 30+ tahun — dan akarnya hampir selalu di sisi keterlibatan bisnis yang insufficient.
- Agile meningkatkan keterlibatan manajer bisnis — sprint review adalah mekanisme feedback yang sangat efektif jika digunakan dengan serius.
- UAT adalah momen ketika manajer bisnis memverifikasi bahwa sistem menjawab kebutuhan bisnis — bukan formalitas yang bisa didelegasikan sepenuhnya.
- Proyek si tidak selesai saat go-live — benefits realization adalah tanggung jawab bisnis yang dimulai di hari 1 pasca go-live.
- Tingkat keterlibatan manajer bisnis adalah prediktor terkuat keberhasilan proyek SI — lebih kuat dari budget, tim IT, atau teknologi yang digunakan.
Closing Bridge ke Bab 10: Pengembangan sistem yang baik (Bab 9) menghasilkan aplikasi yang berfungsi. Namun di era modern, aplikasi-aplikasi tersebut beroperasi di atas infrastruktur yang terus berevolusi — dari data center on-premise ke cloud, dari jaringan kabel ke konektivitas mobile dan IoT. Bab 10 membahas infrastruktur digital modern yang perlu dipahami manajer — bukan dari perspektif teknis, tapi dari perspektif implikasi manajerial dan keputusan strategis.
🔥 "Sistem informasi yang gagal lebih sering disebabkan oleh manajer yang tidak terlibat daripada oleh programmer yang tidak kompeten — ownership bisnis atas SI adalah tanggung jawab yang tidak bisa didelegasikan."
SEK 9.12 — LATIHAN & REFLEKSI
Pertanyaan Reflektif:
- Anda baru saja dipercaya menjadi Business Owner untuk proyek implementasi CRM baru di perusahaan Anda. Apa 5 hal pertama yang akan Anda lakukan dalam 2 minggu pertama?
- Mengapa scope creep begitu umum dan sulit dihindari dalam proyek IT? Strategi apa yang paling efektif menurut Anda?
- Dalam konteks Agile, apa perbedaan antara "Product Owner yang baik" dan "Product Owner yang hanya menghadiri sprint review"? Apa yang membedakan keduanya dalam praktik?
- Bagaimana Anda mengukur "success" sebuah proyek implementasi ERP — dari perspektif IT vs perspektif bisnis? Mengapa perbedaan perspektif ini penting?
Latihan Artefak 9.1 — Business Case Mini Canvas Pilih satu kebutuhan SI yang Anda identifikasi dari analisis sebelumnya (dari artefak bab 1–8):
- Formulasikan problem statement dengan data konkret
- Buat analisis 3 opsi solusi
- Lakukan cost-benefit analysis sederhana untuk opsi yang direkomendasikan
- Identifikasi 3 risiko utama dan strategi mitigasinya
- Tentukan KPI benefits realization untuk 3, 6, dan 12 bulan
Artefak 9.1 = business case yang siap dipresentasikan kepada manajemen untuk meminta persetujuan investasi.
REFERENSI BAB 9
- Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2022). Management Information Systems: Managing the Digital Firm (17th ed.). Pearson.
- PMI. (2021). A guide to the project management body of knowledge (PMBOK guide) (7th ed.). Project Management Institute.
- Beck, K., et al. (2021). Manifesto for agile software development (20th anniversary ed.). Agile Alliance.
- Standish Group. (2023). CHAOS report 2023: Decision latency theory. The Standish Group International.
- Kane, G. C., Phillips, A. N., Copulsky, J., & Andrus, G. (2022). The technology fallacy: How people are the real key to digital transformation. MIT Press.
- Dumas, M., La Rosa, M., Mendling, J., & Reijers, H. A. (2021). Fundamentals of business process management (3rd ed.). Springer.
- GoTo Group. (2024). Annual report 2024. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.
- Sari, N. P. (2023). Transformasi digital perbankan di Indonesia: Studi kasus Bank BRI. Jurnal Manajemen dan Bisnis Digital, 5(2), 89–104.
- McKinsey & Company. (2023). Delivering large-scale IT projects on time, on budget, and on value. McKinsey Digital.
- Turban, E., Pollard, C., & Wood, G. (2021). Information technology for management (11th ed.). Wiley.
- Cobb, C. G. (2022). The project manager's guide to mastering agile: Principles and practices for an adaptive approach (2nd ed.). Wiley.
- Rogers, D. L. (2021). The digital transformation roadmap. Columbia Business School Publishing.