- foundation/: MASTER-ANCHOR, BOOK-SPEC, BLUEPRINT, WRITING-TEMPLATE, REFERENCE-BANK - chapters/: 18 bab (bab-01 s.d. bab-18) + 18 outlines - worksheets/: 18 worksheet pendamping (A01-A18) - backmatter/: references, glosarium, indeks, kata-pengantar, tentang-penulis - scripts/: build-book.ps1, build-worksheets.ps1 (Pandoc + XeLaTeX) - templates/: book-template.tex (B5, Times New Roman, margin sesuai BOOK-SPEC) - AUDIT-REPORT.md: Phase 6 consistency audit — all gates passed - PRINT-GUIDE.md: instruksi lengkap cetak PDF RTI-20252 methodology Phase 1-6 complete. Publication-ready.
23 KiB
OUTLINE DETAIL — BAB 3
SI untuk Pengambilan Keputusan Manajerial
Bagian: I — Konteks Strategis dan Organisasi
Level: Menengah
Estimasi Halaman: 18–22
Target Kata: 4.500–5.500
SEK 3.1 — PEMBUKA
Opening Bridge dari Bab 2: Audit Keselarasan (Template 2.1) yang diselesaikan di Bab 2 menghasilkan satu temuan penting: ada gap antara informasi yang dibutuhkan manajer untuk membuat keputusan dan informasi yang tersedia di sistem saat ini. Bab ini menjelaskan mengapa gap itu terjadi secara sistematis — dan bagaimana SI yang dirancang dengan benar dapat menutupnya.
Hook: Seorang direktur keuangan harus memutuskan apakah perusahaan akan ekspansi ke kota baru. Di mejanya: laporan keuangan 3 tahun terakhir, proyeksi market analyst, dan intuisi dari 15 tahun pengalaman. Ia membuat keputusan dalam 2 jam. Tiga bulan kemudian, ekspansi tersebut mengalami kerugian 40% dari perkiraan — bukan karena data yang salah, tapi karena data yang tepat tidak tersedia saat keputusan dibuat.
Pertanyaan sentral: "Bagaimana SI seharusnya dirancang dan digunakan untuk mendukung seluruh spektrum keputusan manajerial — dari yang rutin hingga yang paling strategis?"
SEK 3.2 — MODEL UTAMA (Gambar 3.1)
Nama Model: Matriks Dukungan Keputusan Manajerial (MADKM)
Mermaid diagram: graph TD, 2 dimensi (struktur × level hierarki) membentuk 6 sel
Y-axis: Tingkat Strukturisasi Keputusan (terstruktur → tidak terstruktur)
X-axis: Level Manajemen (operasional → menengah → strategis)
Node utama:
- TPS: mendukung keputusan terstruktur di level operasional
- MIS: mendukung keputusan terstruktur & semi-terstruktur di level menengah
- DSS: mendukung keputusan semi-terstruktur di level menengah-atas
- ESS: mendukung keputusan tidak terstruktur di level strategis
- AI/ML: overlay di semua sel, meningkatkan kualitas di setiap level
Penjelasan per node:
- TPS — Tidak ada ambiguitas, aturan jelas. Contoh: approval kredit di bawah Rp 5 juta otomatis jika skor kredit > 650.
- MIS — Memberikan pola dan ringkasan regular. Contoh: laporan mingguan penjualan per region.
- DSS — Memungkinkan analisis berbagai skenario. Contoh: simulasi dampak kenaikan harga 5% terhadap volume penjualan.
- ESS — Membantu eksekutif membaca sinyal lemah dari lingkungan eksternal. Contoh: dashboard kompetitor monitoring.
- AI/ML Overlay — Di setiap level, AI meningkatkan kecepatan dan akurasi: otomatisasi lebih lanjut di operasional, rekomendasi lebih cerdas di taktis, insight prediktif di strategis.
SEK 3.3 — DEFINISI KUNCI
-
📌 Keputusan Terstruktur (Structured Decision) — Keputusan repetitif yang prosedur pencapaiannya dapat didefinisikan dengan jelas dan dapat sepenuhnya atau sebagian diotomatisasi oleh sistem informasi (Simon, 1977; diperbarui Turban et al., 2021). Relevansi: mengidentifikasi keputusan jenis ini memungkinkan manajer mengalihkan waktu ke keputusan yang benar-benar membutuhkan pertimbangan manusia.
-
📌 Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) — Sistem informasi interaktif yang membantu pengambil keputusan menggunakan data dan model untuk memecahkan masalah semi-terstruktur (Keen & Morton, 1978; diperbarui Sharda et al., 2024). Relevansi: berbeda dari MIS yang memberikan laporan standar, DSS memberikan kapabilitas "what-if" dan pemodelan.
-
📌 Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence) dalam Konteks Manajerial — Kemampuan sistem komputer untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia, termasuk pengenalan pola, pembuatan rekomendasi, dan prediksi berbasis data historis, yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan keputusan manajerial (Davenport & Mittal, 2022). Relevansi: AI bukan pengganti keputusan manajerial, melainkan peningkat kualitas input yang diterima manajer sebelum memutuskan.
-
📌 Bias Kognitif (Cognitive Bias) dalam Pengambilan Keputusan — Kecenderungan sistematis dalam pemrosesan informasi yang menyebabkan penyimpangan dari rasionalitas dalam penilaian (Kahneman, 2011; Hammond et al., 2022). Relevansi: SI yang baik dirancang untuk menampilkan informasi yang meminimalkan bias kognitif umum — bukan memperkuatnya.
SEK 3.4 — KONSEP INTI
3.4.1 — Taksonomi Keputusan Manajerial: Simon dan Beyond
Argumen utama: Herbert Simon (nobelis ekonomi) mengidentifikasi 3 level keputusan yang masih relevan — namun perlu diperbarui dengan dimensi ketidakpastian lingkungan. Framework Simon yang diperbarui:
- Programmed (Structured) → dapat diotomatisasi penuh
- Quasi-programmed (Semi-structured) → butuh pertimbangan manusia + data
- Non-programmed (Unstructured) → dominan pertimbangan manusia, data sebagai konteks Dimensi tambahan modern:
- Kecepatan keputusan yang dibutuhkan (real-time vs strategic horizon)
- Tingkat kepercayaan pada data yang tersedia
- Dampak jika keputusan salah (reversible vs irreversible)
3.4.2 — Proses Keputusan Simon: Intelligence-Design-Choice-Implementation
Argumen utama: Simon (1977) — model IDCI adalah proses universal yang berlaku di semua level manajemen, dan SI harus mendukung setiap fase-nya. 4 fase + peran SI di setiap fase:
- Intelligence — Identifikasi masalah dan peluang. SI: monitoring dashboards, exception reports, anomaly detection
- Design — Kembangkan alternatif solusi. SI: DSS, simulation tools, AI recommendation engines
- Choice — Pilih alternatif terbaik. SI: decision matrix, scoring models, risk analytics
- Implementation — Eksekusi dan monitoring. SI: workflow systems, KPI tracking, feedback loops
3.4.3 — Bias Kognitif dan Peran SI dalam Memitigasinya
Argumen utama: Manajer terbaik sekalipun memiliki bias kognitif yang dapat menghasilkan keputusan suboptimal — SI yang baik dapat memitigasi bias ini. 6 bias kognitif umum + cara SI memitigasi:
- Anchoring bias — terpaku pada angka pertama yang dilihat → SI: tampilkan multiple data points sebelum satu angka referensi
- Confirmation bias — mencari data yang mengkonfirmasi keyakinan awal → SI: "devil's advocate" analytics yang menyajikan kontra-argumen
- Availability bias — terlalu berat pada kejadian terbaru → SI: historical trend view, normalization analytics
- Overconfidence bias — terlalu yakin pada perkiraan sendiri → SI: confidence interval displays, uncertainty quantification
- Status quo bias — menghindari perubahan → SI: opportunity cost calculations, scenario comparison
- Sunk cost fallacy — tidak bisa melepaskan investasi masa lalu yang rugi → SI: forward-looking projections tanpa sunk cost
3.4.4 — DSS: Anatomi dan Komponen
Argumen utama: DSS memiliki arsitektur spesifik yang membedakannya dari sistem informasi biasa. 3 komponen DSS klasik:
- Database subsystem — data warehouse, data mart, data feeds dari TPS/ERP
- Model subsystem — model analitik, simulasi, optimasi, statistical models
- User interface subsystem — dashboard, form input, visualisasi, narasi otomatis Tren modern:
- Embedded DSS — rekomendasi langsung di tool yang digunakan (tanpa buka aplikasi terpisah)
- Collaborative DSS — mendukung keputusan kelompok secara real-time
- AI-powered DSS — model yang belajar dan menyesuaikan diri dengan pola pengguna
3.4.5 — Group Decision Support dan Dinamika Tim
Argumen utama: Banyak keputusan manajerial penting dibuat dalam konteks tim — dan dinamika grup bisa menghasilkan bias kolektif yang lebih berbahaya dari bias individual. Fenomena:
- Groupthink — tekanan konformitas menghilangkan perspektif alternatif
- Information pooling problem — kelompok cenderung mendiskusikan informasi yang dimiliki semua anggota, bukan informasi unik yang hanya dimiliki satu anggota
- Escalation of commitment — kelompok cenderung lebih komit pada keputusan yang sudah dibuat bersama, meski bukti menunjukkan sebaliknya
Peran GDSS (Group DSS): Mengacu pada Turban et al. (2021) — electronic meeting systems, anonymous input, structured brainstorming tools dapat signifikan meningkatkan kualitas keputusan kelompok.
3.4.6 — AI dan Augmented Decision-Making
Argumen utama: Model terbaik bukan "AI menggantikan manajer" atau "manajer tanpa AI" — melainkan "manajer yang di-augment oleh AI." Contoh nyata:
- Radiolog yang menggunakan AI: akurasi diagnosis lebih tinggi dari radiolog sendiri ATAU AI sendiri (Studi Harvard Medical School, 2022)
- Analis kredit dengan AI: lebih cepat, lebih konsisten, dengan human judgment untuk edge cases
- Manajer operasional dengan AI: AI menangani keputusan terstruktur, manajer fokus pada pengecualian
Prinsip augmented decision-making:
- AI menangani keputusan bervolume tinggi dan terstruktur
- Manusia mengatur framework, nilai, dan boundaries
- Kolaborasi di zona semi-terstruktur yang semakin lebar
- Review periodik: apa yang seharusnya dimandatkan ke AI vs dipertahankan manusia?
3.4.7 — Kualitas Data sebagai Fondasi Keputusan
Argumen utama: DSS terbaik sekalipun akan menghasilkan keputusan yang salah jika datanya tidak berkualitas. 6 dimensi kualitas data:
- Accuracy — data mencerminkan realita
- Completeness — tidak ada data kritis yang hilang
- Consistency — definisi yang sama di semua sistem
- Timeliness — data tersedia saat dibutuhkan
- Validity — data mengikuti format dan aturan bisnis
- Uniqueness — tidak ada duplikasi yang menyesatkan
Data Indonesia: Hayati (2022) — survei terhadap 150 perusahaan Indonesia menunjukkan 58% manajer menengah tidak mempercayai sepenuhnya data dari sistem internal mereka sendiri.
SEK 3.5 — KOMPARASI (Tabel 3.1)
Judul Tabel: "Manajer Tanpa SI vs Manajer dengan SI yang Tepat: 8 Dimensi Keputusan"
| Dimensi | Tanpa SI Pendukung | Dengan SI Pendukung Tepat |
|---|---|---|
| Sumber informasi utama | Pengalaman + laporan ad-hoc | Data sistematis + pengalaman |
| Kecepatan keputusan | Lambat (perlu kompilasi manual) | Lebih cepat (data siap tersaji) |
| Konsistensi keputusan | Bergantung kondisi individu | Lebih konsisten (standar data sama) |
| Bias yang dominan | Anchoring + availability bias | Lebih terkontrol dengan visualisasi data |
| Skenario "what-if" | Sulit dilakukan | Bisa dilakukan dalam menit |
| Dokumentasi keputusan | Minim / informal | Terekam dan bisa diaudit |
| Kualitas forecasting | Bergantung intuisi | Didukung model statistik/ML |
| Beban kognitif | Tinggi (semua di kepala/spreadsheet) | Lebih ringan (SI mengelola kompleksitas) |
💡 Insight: SI tidak menjamin keputusan yang selalu tepat — tetapi secara konsisten mengurangi varians (frekuensi keputusan yang sangat buruk) dan meningkatkan reproducibility (keputusan serupa dalam kondisi serupa menghasilkan outcome serupa).
SEK 3.6 — REALITAS LAPANGAN
Fenomena 1: Paradoks Data Berlimpah, Kepercayaan Rendah
Konten: Era big data seharusnya meningkatkan kualitas keputusan. Namun survei McKinsey (2023) menemukan bahwa 72% eksekutif mengaku masih lebih mengandalkan gut feeling untuk keputusan strategis dibandingkan data analytics. Alasannya: data tersedia tapi tidak trustworthy, tidak timely, atau tidak relevant untuk keputusan yang sedang dibuat.
💡 Insight: Masalah bukan volume data — tapi relevansi dan kepercayaan. SI yang baik bukan yang punya data terbanyak, tapi yang menyajikan data yang tepat pada momentum yang tepat.
Fenomena 2: Dunning-Kruger dalam Manajemen Berbasis Data
Konten: Fenomena paradoks: manajer yang baru mendapat akses analytics tools (low data literacy) sering overconfident dalam interpretasi mereka, sementara manajer dengan data literacy tinggi lebih cautious. Studi Davenport & Mittal (2022) di perusahaan Fortune 500 menemukan fase "dangerous confidence" ketika organisasi baru mengadopsi BI tools.
💡 Insight: Implementasi SI tanpa peningkatan data literacy manajerial bisa justru meningkatkan risiko keputusan buruk yang di-justify dengan "kita punya datanya."
Fenomena 3: Tokopedia AI Recommendation — Decision Augmentation di Skala Jutaan
Konten: Tokopedia menggunakan AI untuk mendukung keputusan harga di lebih dari 100 juta produk secara real-time. Manajer tidak lagi memutuskan harga individual — mereka merancang pricing frameworks dan menentukan exception rules yang mengatur kapan manusia harus intervensi. Hasilnya: conversion rate naik 18%, complaint rate turun 32%. (Laporan GoTo Group 2024)
💡 Insight: Manajemen berbasis AI bukan tentang mengurangi peran manajer — tapi tentang elevasi peran manajer ke level kebijakan dan exception handling yang lebih bernilai.
SEK 3.7 — JEBAKAN KOGNITIF
-
⚠️ "Data berbicara sendiri — kita tinggal baca"
- Mengapa salah: Data hanya berbicara melalui interpretasi manusia. Visualisasi yang berbeda dari data yang sama bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda — ini bukan masalah teknis, ini masalah epistemologi.
- Koreksi: Setiap analisis data membutuhkan pertanyaan yang terdefinisi jelas sebelum memulai. Data tidak menjawab pertanyaan yang salah dengan baik.
-
⚠️ "AI akan memutuskan untuk kita — manajer tidak diperlukan"
- Mengapa salah: AI sangat baik untuk keputusan terstruktur berbasis pola historis. Ia tidak bisa menilai konteks etis, dinamika politik organisasi, kepentingan stakeholder, atau kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
- Koreksi: Peran manajer bertransformasi, tidak menghilang. Kompetensi yang dibutuhkan: mengajukan pertanyaan yang tepat kepada data, menginterpretasikan konteks, dan membuat keputusan di zona yang belum dipetakan.
-
⚠️ "DSS adalah sistem mahal khusus perusahaan besar"
- Mengapa salah: Era cloud dan SaaS telah mendemokratisasi DSS. Power BI, Tableau, bahkan Google Sheets dengan query yang baik sudah berfungsi sebagai DSS dasar.
- Koreksi: Pertanyaan yang relevan bukan "apakah kita mampu DSS?" tapi "pertanyaan bisnis apa yang kita perlu jawab secara reguler?" — dari situlah mulai.
-
⚠️ "Keputusan berbasis data selalu lebih baik dari intuisi"
- Mengapa salah: Kahneman (2011) — System 1 (intuisi) dan System 2 (analitis) keduanya memiliki peran. Intuisi yang terlatih dalam kondisi yang familiar sering lebih cepat dan lebih akurat dari analisis panjang.
- Koreksi: SI yang terbaik tidak menggantikan intuisi — ia memberikan calibrated data yang memperkuat intuisi yang baik dan mengoreksi intuisi yang menyimpang.
SEK 3.8 — STUDI KASUS
Kasus A (Dasar): PT Astra International — DSS untuk Keputusan Dealer Network
Sumber: Annual Report Astra 2024, Wirawan (2023) Kondisi awal (❌): Sebelum 2018 — keputusan pembukaan dealer baru di wilayah tertentu berdasarkan insting regional manager dan presentasi dealer aplikant. Tidak ada model yang mengintegrasikan data demografi, daya beli, kompetitor, dan potensi pasar. Perubahan (✅): 2018–2024 — Astra membangun GeoNetwork DSS yang mengintegrasikan data BPS, data penjualan historis, profil ekonomi wilayah, dan data kompetitor untuk menghasilkan skor potensial per kelurahan/kecamatan. Regional manager menerima rekomendasi berbasis model dan bisa men-drill down ke data pendukung sebelum memutuskan. Tabel: Keputusan sebelum vs sesudah DSS (kecepatan evaluasi, akurasi ROI awal vs realisasi, konsistensi kriteria antar region) Pelajaran: DSS yang baik tidak menghilangkan judgment regional manager — ia memindahkan waktu mereka dari kompilasi data ke interpretasi dan keputusan.
Kasus B (Lanjutan): JPMorgan Chase — AI untuk Keputusan Kredit Korporat
Sumber: Annual Report JPMorgan 2024, Davenport & Mittal (2022) Kondisi awal (❌): Tim analis kredit korporat menghabiskan 360.000 jam/tahun untuk mereview dokumen perjanjian kredit (contract review). Proses manual, lambat, dan rentan kesalahan di dokumen yang kompleks. Perubahan (✅): COiN (Contract Intelligence) — AI berbasis NLP yang mereview dokumen kredit dalam hitungan detik. Analis sekarang fokus pada judgment atas red flags yang sudah di-flag sistem, bukan pada pembacaan dokumen seluruhnya. Pelajaran: AI paling efektif ketika mengambil alih volume-intensive structured tasks — membebaskan manusia untuk pekerjaan yang memerlukan judgment, empati, dan akuntabilitas.
SEK 3.9 — TEMPLATE PRAKTIS
Nama Template: Peta Dukungan Keputusan Manajerial
======================================
TEMPLATE 3.1 — PETA DUKUNGAN KEPUTUSAN MANAJERIAL
======================================
BAGIAN A: INVENTARISASI KEPUTUSAN
(Pilih satu area tanggung jawab dan daftarkan 5 keputusan penting)
Area tanggung jawab : ____________________________
# | Keputusan | Frekuensi | Tingkat Struktur | Dampak jika Salah
---|-----------|-----------|------------------|-------------------
1 | ________ | _________ | [ ]T [ ]S [ ]TS | [ ]Tinggi [ ]Sedang
2 | ________ | _________ | [ ]T [ ]S [ ]TS | [ ]Tinggi [ ]Sedang
3 | ________ | _________ | [ ]T [ ]S [ ]TS | [ ]Tinggi [ ]Sedang
4 | ________ | _________ | [ ]T [ ]S [ ]TS | [ ]Tinggi [ ]Sedang
5 | ________ | _________ | [ ]T [ ]S [ ]TS | [ ]Tinggi [ ]Sedang
Keterangan: T=Terstruktur, S=Semi-terstruktur, TS=Tidak Terstruktur
BAGIAN B: ANALISIS DUKUNGAN SI SAAT INI
Keputusan mana yang SUDAH didukung SI : ____________________________
Keputusan mana yang PALING BUTUH dukungan SI: ____________________________
Tipe dukungan yang dibutuhkan : [ ]Data [ ]Analisis [ ]Rekomendasi [ ]Automasi
BAGIAN C: IDENTIFIKASI BIAS KOGNITIF
Bias yang paling mungkin memengaruhi area ini:
[ ] Anchoring — Strategi mitigasi SI: ____________________________
[ ] Confirmation — Strategi mitigasi SI: ____________________________
[ ] Availability — Strategi mitigasi SI: ____________________________
[ ] Overconfidence — Strategi mitigasi SI: ____________________________
[ ] Sunk cost — Strategi mitigasi SI: ____________________________
BAGIAN D: RENCANA PENINGKATAN
Keputusan yang bisa diotomatisasi segera : ____________________________
Keputusan yang butuh DSS dalam 6 bulan : ____________________________
Keputusan yang tetap butuh human judgment : ____________________________
Satu perbaikan kualitas data yang paling mendesak: ____________________________
======================================
SEK 3.10 — PETA KONSEP (Gambar 3.2)
Root: SI untuk Pengambilan Keputusan Manajerial
├── Taksonomi Keputusan
│ ├── Terstruktur (TPS, automasi)
│ ├── Semi-terstruktur (DSS)
│ └── Tidak terstruktur (ESS, judgment)
├── Proses IDCI (Simon)
│ ├── Intelligence → Design → Choice → Implementation
│ └── Peran SI di setiap fase
├── Bias Kognitif
│ ├── 6 bias utama
│ └── Strategi mitigasi berbasis SI
├── DSS Anatomi
│ ├── Database + Model + UI
│ └── Embedded & AI-powered DSS
└── Augmented Decision-Making
├── AI + Human: lebih baik dari keduanya
└── Evolusi peran manajer
SEK 3.11 — RANGKUMAN
7 poin takeaway:
- Simon's IDCI model masih relevan dan berlaku universal — SI harus dirancang untuk mendukung keempat fase, bukan hanya penyimpanan data.
- Tiga level keputusan (terstruktur, semi, tidak terstruktur) menentukan tipe SI yang tepat — tidak ada satu sistem yang cocok untuk semua.
- Enam bias kognitif yang paling merusak keputusan manajerial dapat secara signifikan dimitigasi oleh SI yang dirancang dengan baik.
- DSS bukan aplikasi mahal eksklusif perusahaan besar — prinsipnya dapat diimplementasikan dengan tools yang tersedia di hampir setiap organisasi.
- AI di era ini berperan sebagai augmentor, bukan replacer — model terbaik adalah kolaborasi yang memanfaatkan keunggulan masing-masing.
- Kualitas data adalah fondasi — DSS tercanggih akan menghasilkan keputusan buruk dari data yang buruk.
- Peran manajer bertransformasi secara konkret: dari analis data ke pembuat keputusan yang menggunakan analisis; dari decision-maker untuk semua hal ke wisdom keeper untuk hal yang paling bernilai.
Closing Bridge ke Bab 4: Bab ini membahas bagaimana SI mendukung keputusan dari dalam organisasi. Namun organisasi tidak beroperasi dalam vacuum — ia selalu terhubung dengan ekosistem luar: pemasok, pelanggan, mitra, regulator. Bab 4 akan mengupas bagaimana SI yang terintegrasi di seluruh rantai nilai secara fundamental mengubah cara kompetisi bisnis berlangsung.
🔥 "Keputusan berbasis data bukan tentang mengganti intuisi manajer — tetapi tentang memberikan intuisi tersebut fondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar pengalaman satu orang."
SEK 3.12 — LATIHAN & REFLEKSI
Pertanyaan Reflektif:
- Pikirkan satu keputusan penting yang pernah Anda buat atau saksikan dibuat. Di fase mana proses IDCI paling lemah? Bagaimana SI yang baik bisa memperkuat fase tersebut?
- Dari 6 bias kognitif yang dibahas, mana yang menurut Anda paling umum terjadi di lingkungan kerja yang Anda kenal? Berikan contoh konkret.
- Apakah ada keputusan yang sebaiknya TIDAK didelegasikan ke AI meskipun secara teknis bisa? Apa prinsip yang Anda gunakan untuk membuat perbedaan tersebut?
- Jika Anda harus meningkatkan kualitas satu keputusan rutin di tempat Anda bekerja, alat SI apa yang akan Anda pilih dan mengapa?
Latihan Artefak 3.1 — Peta Dukungan Keputusan Gunakan Template 3.1 untuk satu area tanggung jawab yang Anda kenal:
- Inventarisasi 5 keputusan penting
- Klasifikasikan tingkat strukturisasi setiap keputusan
- Identifikasi 2 bias kognitif yang paling relevan di area tersebut
- Buat rencana peningkatan — satu keputusan mana yang paling mendesak untuk mendapat dukungan SI lebih baik
Output Artefak 3.1 melengkapi gambaran organisasi yang dibangun dari Artefak 1.1 dan 2.1.
REFERENSI BAB 3
- Simon, H. A. (1977). The new science of management decision. Prentice-Hall.
- Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.
- Davenport, T. H., & Mittal, N. (2022). All-in on AI: How smart companies win big with artificial intelligence. Harvard Business Review Press.
- Turban, E., Pollard, C., & Wood, G. (2021). Information technology for management: On-demand strategies for performance, growth and sustainability (11th ed.). Wiley.
- Sharda, R., Delen, D., & Turban, E. (2024). Analytics, data science, and artificial intelligence (12th ed.). Pearson.
- Hammond, J. S., Keeney, R. L., & Raiffa, H. (2022). Smart choices: A practical guide to making better decisions. HBR Press.
- Hayati, N. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan manajerial berbasis data di perusahaan Indonesia. Jurnal Sistem Informasi STMIK SINAR NUSANTARA, 18(1), 1–15.
- McKinsey Global Institute. (2023). The economic potential of generative AI. McKinsey & Company.
- Wirawan, B. (2023). Implementasi decision support system pada manajemen jaringan dealer otomotif nasional. Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi, 12(2), 78–94.
- Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2022). Management Information Systems: Managing the Digital Firm (17th ed.). Pearson.
- GoTo Group. (2024). Annual report 2024. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.
- Mikalef, P., & Gupta, M. (2021). AI capability: Conceptualization, measurement calibration, and empirical study on its impact on organizational creativity. Information & Management, 58(3), 103434.